|
Bagi mereka yang ngefans dengan Bang Iwan Fals, tentu saja tidak asing dengan lagu Oemar Bakrie. Ya, lagu tentang seorang guru dengan sepeda kumbang dan tas dari kulit buayanya itu menjadi potret suram kehidupan seorang guru di masa lalu (atau mungkin masih sampai sekarang ya???) .
Seperti Oemar Bakrie, akupun adalah seorang guru. Menjadi guru sepertinya memang sudah menjadi panggilan hidupku, dan karakter gurupun terlihat sudah mengalir dalam darahku. Terlahir dari sebuah keluarga guru, aku akhirnya terbawa arus mengikuti jejak kedua orang tuaku menjadi seseorang yang harus bisa di GUgu (dipercaya) dan ditiRU oleh murid – muridku. Setelah lulus dari sebuah Universitas di Salatiga Jawa Tengah, aku mendapat pekerjaan di sebuah sekolah swasta yang cukup terkemuka di Semarang.

Jika mengajar adalah aktivitas utamaku, tidak demikian halnya dengan olah raga. Bahkan dalam kamus kehidupanku dulu, olahraga hanyalah sebuah kata tanpa banyak arti, yang jarang sekali mengisi jadwal – jadwalku. Bahkan, sejak aku kuliah, seingatku olah raga tidak pernah menjadi perhatianku sama sekali. Dan hasil dari semua itu mulai terlihat jelas saat aku mengajar di Semarang. Karena beban mengajar yang padat, serta ditambah dengan memberi les – les yang sangat menyita waktu, aku jadi jarang sekali memperhatikan kondisi tubuhku. Tanpa aku sadari, perlahan namun pasti berat badanku pun semakin meningkat. Tekanan karena pekerjaan yang memang menyita waku dan pikiran, serta ditambah pola hidup yang sangat tidak sehat, membuatku lama – lama menjadi seperti sebuah robot gendut yang diprogram hanya untuk berkerja, makan, tidur, bekerja, makan, dan tidur lagi setiap harinya. Sampai sekitar lima tahun aku bekerja di Semarang, berat badanku mencapai angka 95 kg. Sungguh tidak proporsional dengan tinggi badanku yang hanya 167 cm. Aku tergolong obesitas berat!!!. Aku masih ingat bagaimana rasanya saat itu : tubuh berat, sulit bergerak, gampang berkeringat, dan mudah terserang penyakit. Sungguh tidak nyaman. Rekan – rekanku di Semarang pasti hafal bahwa aku adalah salah satu guru dengan tingkat kehadiran yang paling rendah karena paling sering terkena penyakit.
Kondisi tersebut membuat aku sangat prihatin, sampai suatu hari aku berbincang – bincang dengan seorang suster perawat di sekolahku, yang juga adalah seorang sahabatku. Aku mengeluh pada Suster Ruth, sahabatku itu, tentang kondisiku. Namun,seperti yang biasa kudengar dia menyarankan aku untuk meluangkan waktu sekedar untuk berolah raga. Saran seperti itu sudah kudengar hampir ribuan kali. Kesulitanku adalah soal waktu, aku hampir-hampir sudah tidak ada waktu lagi untuk berolah raga, selain itu aku juga susah menemukan olahraga apa yang paling cocok untukku. Dia berpikir sebentar, kemudian dia memberikan satu usulan paling cerdas yang pernah kudengar. Dia menyarankanku untuk bersepeda saja ke sekolah. Bersepeda, juga adalah salah satu bentuk olahraga, sehingga aku tidak perlu mengalokasikan waktu khusus untuk itu. Aku bisa melakukannya sambil berangkat dan pulang kerja. Baru belakangan ini saja aku tahu bahwa sudah banyak teman – teman (bikers to work) yang melakukannya.
Tanpa membuang banyak waktu, April 2009 yang lalu aku mengunjungi Rodalink Semarang untuk mencari tahu harga – harga sepeda. Cukup terkejut aku ketika mengetahui bahwa ada begitu banyak macam sepeda dengan harga yang bervariasi, bahkan ada yang menyamai harga sebuah mobil!!! Akhirnya, saat itu aku yang sama sekali blank tentang dunia sepeda, memilih Sepeda Polygon Premier yang selain harganya pas di kantong, tampilannya juga cukup keren.
Jadilah mulai saat itu, aku menjadi seorang biker to work (walau saat itu aku belum sadar ada perkumpulan b2w). Respon positif pertama datang dari ibu kostku yang langsung memuji bahwa setelah bersepeda, suara dengkuranku saat tidur tidak lagi sekeras dulu sebelum bersepeda. Ha…ha…ha…(Bisa – bisa aja nih Ibu kos). Perlahan, aku mulai merasakan perbedaan dalam tubuhku. Aku merasa lebih fit dan lebih aktif. Lama – lama aku jadi merasakan asyiknya bersepeda, sehingga porsi waktu untuk bersepeda terus kutambah.,
Tidak lama setelah itu, aku memutuskan untuk pindah kerja ke kampung halamanku di Salatiga. Namun, tentu saja, aku tidak lupa membawa Premierku untuk bike to work. Murid – murid baruku terlihat bingung melihat guru mereka dengan cueknya menggowes sepeda. Namun kebingungan itu tidak berlangsung lama, karena segera tergantikan oleh decak kagum. Mereka menyebutku guru yang gaul, fungky dan berjiwa muda (memang aku masih muda kali he..he..he. ) !!!!
September 2009 ini, genap 6 bulan aku menggowes Premierku. Hasilnya cukup luar biasa!!! berat badanku turun sekitar 10 kg menjadi 85 kg. Walau aku tahu, aku masih harus mengejar angka ideal, namun hasil awal ini sudah lumayan. Selain itu, aku sekarang jauh lebih aktif dan bersemangat menjalani aktifitasku.
Kalau dahulu Oemar Bakrie mengajar naik sepeda kumbang dan memakai tas kulit buayanya, maka aku sekarang, sang Oemar Bakrie modern, siap mencerdaskan kehidupan bangsa dengan menyandang back pack dan menggowes Polygon premierku. Terima kasih Suster Ruth yang dengan sarannya telah mengubah hidupku, dan terima kasih Polygon Premier karena telah betul – betul menyehatkanku. Hidup Pendidikan Indonesia!!!! Jayaaah Polygon karya anak bangsa!!! |