:: HEADER - Polygon Cycle ::
Untitled Document
Team
Polygon Club
Cycling Info
Exhibition
Quiz
Multimedia
My Polygon
Polling
Polygon On Media
Galleries
Research
Polygon Shool of Bicycle



ACTIVITIES
70 PERSEN PRODUKSI PT INSERA SENA TEMBUS DUNIA
Sepeda Hybrid Dongkrak Pasar Lokal
Kedaulatan Rakyat, Senin, 13 Maret 2006

Sepeda sudah menjadi bagian dari kehidupan kita sehari hari. Sadar akan hal tersebut PT Insera Sena yang memproduksi sepeda polygon dengan kesungguhan dan perhatian mendalam akan fungsi yang tepat dan signifikan dari setiap sepeda.

"Penggunaan sepeda untuk maksud dan tujuan apapun mulai dari alat transportasi , olahraga, hobi, sarana rekreasi keluarga dan teman melalui kegiatan bersepeda bersama , melatih ketrampilan bersepeda hingga sebagai aktualisasi diri menjadikan kam berkomitmen untuk menggabungkan setiap komponen sepeda polygon menjadi kesatuan utuh sebagai hasil sinergai terbaik dari berbagai aspek teknologi, kuwalitas, pengerjaan detail, berikut layanan pendukung nya", Jelas General Manager Marketing PT Insera Sena, Ronny Liyanto ketika melaunching sepeda hHybrid Trexia di pabrik Polygon, Jl Jawa 393 desa Wadung Asih Boduran, Sidoarjo, baru baru ini.

Menurutnya pengembangan sumber daya manusia si PT Insera Sena terus dilakukan. Saat ini telah memiliki 450 karyawan dari lulusan SMA hingga S2. berbagai halteknis telah mengisi tahun- tahun perjalanan Polygon sebagai salah satu merek sepeda kelas dunia. Sepeda Polygon selalu menmberikan kinerja optinal bagi pengendaranya di mana hal ini merupakan esensi besepeda. "Sepeda Polygon dibuat oleh para perancang sekaligus pengendara sepeda sendiri. Oleh karenaya kimi memahami betuh apa yang dibutuhkan oleh setiap pengendara sepeda. Banyak pengendara bersepeda pemula ataupun atlet profesional telah membuktikan kinerja terbaik sepeda Polygon", tambah Factory Manager Mulypno.

Untuk memproduksi sepeda berkwalitas eksport, jelas Mulyono, selain dikerjakan tangan - tangan terampil dan peralatan industri yang mendukungnya juga sangat ditentukan dengan kwalitas bahan baku untuk membuat frame."Pipa frame yang kita gunakan adalah aluminium import dari Cina. Sedang gear, rantai dansparepark lainnya bikinan bikinan Shimano (Jepang)," katanya.

Menurut Ronny Liyanto Sekitar 80 persen hasil produksi PT Insera Sena adalah sepeda gunung (mountain bike) sedangkan sisanya antara lain road/racing bike, city bike, BMX & freestyle, Junior, Kids bike dan special bike ( rodeo, tandem, folding dan Cruiser). Jumlah total mencapai 40 jenis.

Sejak awal tujuan produksi adalah untuk ekspor. Dengan kapasitas produksi per tahun 360 ribu unit, 70 persen produknya diekspor ke Eropa, Amerika, Asia, Afrika, dan Australia. Sementara 30 persen sisanya untuk pasar lokal.>

Selain memproduksi Polygon, PT Insera Sena juga mendapat order dari berbagai merk ternama yang telah menembus pasar dunia. Di antaranya : Scott, Mustang, Insera, Raleigh, Miyata, meski tak punya hak untuk menjual. Untuk Scott pasar utamanya adalah Amerika Serikat, Belgia, Norwegia, dan Rusia. Mustang untuk pasar negara Skandinavia, Sedangkan Insera untuk pasar Finlandia.

Seiring kenaikan harga BBM, kata Ronny, kami mencoba memanfaatkan celah - celahnya dengan memproduksi sepeda hybrid pertama di Indonesia. Jenis ini merupakan gabungan antara sepeda gunung (mountain bike) dan sepeda balap (road bike).

Jenis ini untuk efisiensi tenaga. Dengan basis road bike dengan kenyamanan montain bike, Ronny berharap Trexia dapat direspons positif oleh pasar.

"Pada tahap awal Trexia dilucurkan dengan jumlah terbatas sebanyak 400 unit, Tapi saya optimistis produk baru ini dapat mendongkrak penjualan di pasar lokal 15 sampai 20 persen," katanya sembari manyebutkan harga di pasaran per unitnya Rp. 2.095.000,-

POLYGON PACU PRODUKSI 20%
Bisnis Indonesia, Jum'at, 9 Maret 2006

SURABAYA: PT Insera Sena, produsen sepeda merek Polygon, pada tahun ini akan meningkatkan produksi sedikitnya 420.000 unit atau meningkat 20% dibanding tahun lalu yang mencapai sekitar 350.000 unit.

Rony Liyanto, General Manager Marketing PT Insera Sena, mengatakan peningkatan produksi tersebut diharapkan dapat dicapai melalui peluncuran sepeda tipe hibrid Trexia, yang merupakan penggabungan model antara jenis sepeda gunung dengan sepeda untuk kawasan perkotaan. Sepeda ini diharapkan juga dapat meningkatkan kinerja ekspor.

"Kami berharap peluncuran tipe Trexia ini bisa memberikan kontribusi signifikan bagi perusahaan, karena jenis sepeda hibrid ini disesuaikan dengan tren kebutuhan pasar, yaitu tidak terlalu membutuhkan tenaga tapi memiliki kecepatan cukup tinggi," kata Rony kepada Bisnis, kemarin.

Dia menyebutkan ekspor yang selama ini memberikan kontribusi pendapatan perusahaan hingga 70% pada tahun lalu diharapkan juga bisa tumbuh sedikitnya 20%.

"Sasaran ekspor sepeda kami dengan berbagai merek a.l. Miyata, Raleight, hingga Scott." Selama ini produk tersebut diekspor ke sekitar 30 negara, di mana sekitar 60% ditujukan ke Eropa, 10% ke Jepang, sedangkan 30% lainnya ke Kanada, AS, Australia, dan sejumlah negara di Asia Tenggara."

Oleh Bambang Sutejo
Bisnis Indonesia
 
GENJOT PASAR LOKAL DENGAN SEPEDA HYBRID
Jawa Pos, Kamis, 8 Maret 2006

Surabaya - Kenaikan harga BBM memunculkan harapan baru bagi produsen sepeda. Bulan ini PT Insera Sena, Produsen sepeda merek Polygon, me-launching sepeda hybrid pertama di Indonesia.

"Sepeda Hybrid Trexia ini merupakan gabungan antara sepeda gunung (mountain bike) dengan sepeda balap(road bike)". Ujar Ronny Liyanto, General Manager Marketing PT Insera Sena.

Sepeda dengan disain baru ini, kata Ronny, untuk efisiensi tenaga, Dengan basis road bike dan kenyamanan setara mountai bike, Ronny berharap Trexia dapat direspons positif pasar.

Pada tahap awal Trexia diluncurkan dengan jumlah terbatas sebanyak 400 unit. Tapi dia optimis produk baru ini dapat mendongkrak penjualan di pasar lokal 15 - 20 persen.

PT Insera Sena adalah produsen sepeda bertaraf international. Perusahaan yang berlokasi di Buduran , Sidoarjo ini , melayani order pembuatan merek-merek sepeda terkenal seperti Scott, Mustang, Insera, Raleigh, Miyata, meski tak punya hak untuk menjual. Untuk Scott pasar utamanya adalah Amerika Serikat, Belgia, Norwegia, dan Rusia. Mustang untuk pasar negara Skandinavia, Sedangkan Insera untuk pasar Finlandia.

Sekitar 80 persen hasil produksi PT Insera Sena adalah sepeda gunung (mountai bike) sedangkan sisanya antara lain road/racing bike, city bike, BMX & freestyle, Junior, Kids bike dan special bike ( rodeo, tandem, folding dan Cruiser). Jumlah totaal mencapai 40 jenis.

Sejak awal tujuan produksi adalah untuk ekspor. Dengan kapasitas produksi per tahun 360 ribu unit, 70 persen produknya diekspor ke Eropa, Amerika, Asia, Afrika, dan Australia. Sementara 30 persen sisanya untuk pasar lokal. Untuk sementara ini, PT Insera Sena tidak merencanakan penambahan jumlah output, "Tetapi kami lebih berkonsentrasi pada kualitas output yang kami hasilkan", ujar Factory Manager Mulyono. (dia)

POLYGON LAUNCHING THE 1st INDONESIA'S HYBRID BIKE
Tgl 8 Maret lalu Polygon meluncurkan TREXIA, sepeda hybrid pertama di Indonesia. Konsep hybrid untuk sepeda berarti perpaduan antara 2 genre. Pada Trexia, genre yang dimaksud adalah MTB dengan dominasi spesifikasi Road Bike. Oleh karenanya, sepeda ini paling sesuai untuk rutinitas berolahraga di mana penggemar sepeda umumnya gemar ber-MTB meski medan yang dilalui adalah jalanan mulus. Trexia dengan flatbar road bike dan ban jenis slick mampu menjawab kebutuhan tersebut. Tenaga yang dialirkan oleh pesepeda akan jadi lebih optimal dan tentunya manfaat yang didapat dari aktivitas bersepeda tersebut lebih maksimal.



GM Marketing Polygon, Ronny Liyanto, menjelaskan tentang sepeda baru Trexia saat acara launching
ROBERT WIJAYA, WAJAH BARU DI PELATNAS BALAP SEPEDA ASIAN GAMES XV
SURYO EKO P., Surabaya



Tak Gentar meski Belum Pernah Pegang Sepeda Track
Dari sepuluh nama pembalap sepeda yang dipersiapkan PB ISSI ke pelatnas Asian Games XV, hanya Robert Wijaya yang debutan. Sembilan pembalap lainnya pernah memperkuat Indonesia di SEA Games Filipina 2005. mengapa akhirnya Robert bisa menembus pelatnas?


MENYANDANG status sebagai atlet nasional, pada umumnya menjadi kebanggan tersendiri bagi mayoritas atlet Indonesia. Tak terkecuali dengan Robert Wijaya. Pembalap yang dibesarkan klub Polygon Sweet Nice (PSN) Surabaya itu akhirnya dapat masuk pelatnas menggantikan Rohmat Nugraha yang dicoret beberapa waktu lalu.

Padahal, berdasarkan surat pemanggilan yang ditujukan kepadanya, Robert sudah harus bergabung dengan Tonton Susanto dkk di pelatnas mulai Februari lalu. Sedangkan tempat pelaksanaan pelatnas cabang kayuh sepeda cepat ini, sementara waktu dipusatkan di Subang, jabar, sebelum bergeser ke Malang, Jatim, mulai 1 April mendatang.

"Saya mendapat dispensasi terlambat bergabung ke Subang. Ini karena saya ditugaskan klub untuk mengikuti Tour de Taiwan mulai 5-11 Maret. Setelah dari kejuaraan itu, kemungkinan mulai 15 Maret nanti, saya baru bisa bergabung ke Subang," ungkap Robert, yang baru genap 22 tahun pada Selasa (21/2) minggu lalu.

Dipanggilnya pembalap kelahiran Surabaya yang besar di Mojokerto itu bagi Robert maupun PSN terasa istimewa. Ini karena dari 10 atlet yang dipanggil, hanya Robert yang berstatus atlet masih berbendera PSN. Sedangkan enam atlet lainnya hanya berstatus sebagai mantan binaan PSN.

Antara lain Sama'i, Matnur, Tonton Susanto, Fatahillah Abdullah, Uyun Mazizah, dan Santia Tri Kusuma. Selain itu, masuknya nama Robert ini juga meneruskan tradisi pembalap PSN sebelumnya seperti Ferinanto yang sedang tenggelam karena "euforia" pascamenikah.

Begitu pula dengan dua andalan muda PSN Hari Fitrianto dan Bambang Kristanto, tengah under-form setelah memperkuat Merah Putih di SEA Games Filipina lalu. Sebagai atlet pelatnas debutan, Robert yakin mampu bersaing dengan senior-seniornya.

Padahal, kuota atlet Indonesia seluruhnya terjun di nomor track di velodrom. Sedangkan dia sendiri belum pernah mengayuh sepeda track.

"Selama berkarir di balap sepeda, saya selalu main di nomor road race (jalan raya). Bahkan, saya juga pernah mengalahkan beberapa pembalap yang pernah ikut pelatnas. Ini menjadi modal kepercayaan diri saya main di track," jelasnya.

Robert juga mengetahui dari delapan pembalap pria, belum semuanya pernah main di track. Seperti Edi Purnomo, Fatahillah, Agus Mulyanto, dan Kaswanto. Sedangkan Tonton, Sama'i dan matnur, terakhir kalinya terjun di track saat PON Jatim 2000, enam tahun silam.

"Bergabung teman-teman yang masuk pelatnas juga mayoritas belum memiliki pengalaman di track, karena sama-sama baru di nomor ini, saya yakin mampu mengimbangi mereka. Apalagi, saya diproyeksikan untuk nomor beregu," tandas Robert.(*)

 
ACTIVITIES